Selasa, 11 April 2017

CINTA DION

Aku dan Dion di lahirkan pada kota dan di hari yang sama. Rumah kami kebetulan berdekatan. Dari TK sampai SMU pun kami pada sekolah yang sama pula. Ayahku dan ayah Dion bekerja sebagai guru di sekolah yang sama. Mungkin hanya kebetulan. Tapi kadang-kadang orang tua kami seakan akan ingin menjodohkan kami. Ah...ada-ada saja jaman internet seperti sekarang ini masih ada perjodohan. Setiap orang tua kami ngomong masalah perjodohan pasti aku sewot. Dasar emak-emak babe-babe. Tapi beda dengan Dion, dia santai-santai saja. Kadang dia malah menggoda aku sambil cengengesan. Dasar cowok.
Menjelang kelulusan SMA ternyata aku dan keluargaku harus pindah ke kota lain. Alhamdullilah ayahku diangkat menjadi kepala sekolah. Sedih rasanya meninggalkan kota ini Kota yang banyak kenangan, walaupun kota ini tidak terlalu besar tapi nyaman,asri dan tidak terlalu ramai. Apalagi malam terasa ramai hanya sampai jam 21:00. Hanya alun-alun yang ramai sampai tengah malam.
Sebelum acara kepindahan, keluargaku dan keluarga Dion mengadakan acara makan bersama di alun-alun. Sambil makan kami banyak bercerita, bercanda. Biasa lah pembicaraan tak lepas dari perjodohan aku dan Dion. Tapi ku lihat malam itu Dion banyak diam. Biasanya kalau orang tua bicara perjodohan Dion cengengesan sambil menggoda aku sampai aku jengkel setengah mati. Dari sinar matanya ada kesedihan yang tak terungkap. Ada apa dengannya?. Baru kali ini aku melihat sikap Dion yang aneh tidak seperti biasanya. Sampai acara selesaipun sikap Dion tidak berubah. Sakitkah dia?. Atau...apakah tidak suka acara makan malam ini?. Pertanyaan berkecamuk di kepalaku ini.
Kepindahan kami sengaja tidak berbarengan berangkatnya. Ayahku lebih dulu berangkat karena harus segera bekerja di sekolahan yang baru. Aku dan ibuku tinggal dulu beberapa saat sampai penerimaan ijazah SMU ku. Rumah yang kutempati pun harus dikembalikan ke pihak Yayasan tempat Ayahku bekerjao. Sehari sebelum keberangkatan aku dan Dion sengaja lari pagi di sekitar kompleks perumahan pegawai yayasan. Sebenarnya aku aku enggan lari pagi hari ini, karena badanku terasa capek seharian kemarin aku dan ibuku beberes barang sebagian yang masih tersisa. Tapi aku nggak enak menolak ajakan Dion. Kata Dion ini kesempatan terakhir bisa bareng, besok pagi setelah subuh aku dan ibuku berangkat ke Surabaya.
Suasana kompleks masih terasa sepi hanya terasa sapuan angin yang menerpa wajah kami. Sejuk dan masih bersih. Hari ini hari minggu mungkin penghuni kompleks sengaja bermalas-malasan untuk keluar rumah. Kami berdua hanya terdiam sambil berlari-lari kecil dan terkadang hanya jalan jika lelah. Dion yang biasanya usil menggoda aku setiap kali bersama kali ini pun banyak diam. Aku merasa suasana terasa kaku.
"Ra, besok kita tidak bersama lagi". Tiba-tiba Dion memecah kebisuan kami. "Iya", Jawabku singkat. Kami pun berhenti dan duduk-duduk di jembatan kecil pinggir jalan. Ku lihat wajah Dion melihat ke depan dengan dan sesekali melihat ke arahku. "Sesekali datanglah kesini, Ra". Iya. Jawabku. Tak banyak pembicaraan antara aku dan Dion. Karena Dion tidak seperti biasanya. Biasanya Dion yang memancing pembicaraan dengan keusilannya. Tak terasa matahari sudah terasa sedikit panas. Dan keringat sudah mulai membasahi tubuh kami masing-masing. Kami pun mulai beranjak dan pulang ke rumah.
Pagi setelah subuh ku lihat mobil travel pesanan ibuku sudah menjemput kami. Dion sekeluarga pun sudah ada di teras rumah untuk mengantar kepergian kami. Dion dan adiknya Dona sibuk memasukkan barang-barang kami ke bagasi mobil. Kami pun bersalaman. Tak ketinggalan Dion sambil berkata,"Jangan lupa bbm aku, ra". "Oke boss, siap,"Jawabku. Selama perjalanan ibuku lebih banyak tidur. Mungkin kelelahan. Beberapa hari kemarin kami sibuk beberes packing barang. Sebagian di kirim lewat jasa paket. Ah...Surabaya...sudah kebayang panasnya. Sambil menikmati perjalanan ku buka hanphonku. Ku lihat foto-foto yang ku simpan. Ternyata banyak sekali foto Dion sekeluarga. Kupandangi foto Dion. Ternyata ganteng juga dia. Tidak heran banyak cewek di sekolahku yang cari perhatian ke Dion. Tapi sepertinya tidak ada satupun yang bisa mencuri hati Dion. Mungkin standarnya terlalu tinggi. Kenapa mikirin Dion. Sedang aku?. Cowok seperti apa sich yang jadi kriteriaku?. Seperti Dion kah?. Ha..ha..mikir apa aku ini. Sebentar lagi pasti aku sibuk banget. Harus daftar kuliah...Ya Alloh mudah-mudahan aku di terima Di Universitas Negeri.
Tak memakan waktu lama kami sekeluarga sudah bisa menyesuaikan dengan lingkungan di sini. Kami menempati rumah milik yayasan tempat ayah bekerja. Pinginnya ayah Surabaya adalah tempat terakhir makanya kemungkinan ayah mau beli rumah di Surabaya ini. Alhamdullilah aku pun diterima di salah satu Universitas Negeri fakultas Ekonomi. Lewat bbm Dion juga mengabarkan diterima di Universitas ternama di yogyakarta fakultas Kedokteran. Setiap hari kami saling kirim kabar lewat bbm ataupun SMS.
Sesibuk apa pun kegiatan kuliah aku dan Dion selalu menyempatkan diri bbm atau sms. Ini sudah jadi kebiasaan wajib kami. Bagaikan sepasang kekasih yang selalu berkirim kabar. Tapi kami bukan sepasang kekasih. Saat aku lagi dekat sama cowok pun aku selalu berbagi cerita dengan Dion. Dion selalu memberi masukan positif dan selalu pesan untuk bisa jaga diri. Tidak sekali aku dekat sama cowok tapi tak pernah lama. Aku biasanya yang putusin. Entahlah...sebenarnya cowok seperti apa yang aku mau. Itupun aku selalu berbagi cerita sama Dion. Dion pun selalu terbuka ke aku kecuali tentang cewek. Dion tak sekalipun cerita tentang cewek yang sedang dekat dengannya. Kadang aku berpikir apakah cowok seganteng dan sepintar Dion tidak ada cewek yang mau jadi pacarnya. Atau apakah Dion yang tak membuka diri pada cewek. Ah...entahlah...
Aku dan Dion lulus pada tahun yang sama. Atas saran ayahku aku langsung ambil program S-2 pada universitas yang sama. Sedangkan Dion mengambil kerja sosial kedokteran pada daerah tertinggal. Dia di tempatkan di pedalaman Kalimantan. Dua tahun berlalu aku sudah mengantongi gelar S-2. Kemudian aku kerja sebagai dosen pada universitas swasta ternama di Surabaya. Dion pun akhirnya kembali ke yogya dan bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit swasta. Selama aku pindah ke Surabaya aku dan Dion tak pernah ketemu hanya kirim foto kami masing-masing lewat bbm. Hingga suatu hari ada sepucuk undangan di meja ruang tengah yang sudah terbuka. Sepintas kulihat ada tulisan kel.bapak Darmawan Purworejo. Oh...my God mungkinkah Dion?. Kenapa dia tidak bilang padahal tak satu haripun terlewat kami berhubungan lewat hanphon. Terlalu kamu Dion...pikirku. Dalam kebingunganku aku tak tahu ibuku sudah berdiri di sebelahku. "Sora, minggu depan ibu sama ayah mau ke Purworejo kondangan ke tempat Pak Darmawan. Sora mau ikut?". Belum tahu bu, jawabku. Kenapa belum tahu?. Tak inginkah Sora ketemu Dion?. Dion mesti ada di sana. Adiknya menikah masak ya nggak datang. Apa bu?. Jadi Dona yang nikah?. Ku lihat ibu mengangguk.
Pernikahan Dona diadakan di gedung pertemuan di jalan Kartini. Dari luar terlihat lumayan mewah. Maklum Dona anak perempuan satu-satunya. Setelah mengisi daftar tamu kami pun masuk ke dalam gedung. Kami langsung menyalami pengantinnya dan juga orang tua kedua belah pihak. Aku tengak tengok di mana Dion?. Dari tadi aku tidak melihatnya. Apakah nggak datang?. Keterlaluan...adiknya nikah nggak datang. Huh...dasar...
Ayah dan ibuku banyak bertemu dengan teman lama. Aku sengaja duduk tak bersama mereka. Aku lebih memilih duduk di luar gedung sambil menikmati camilan yang ada di tanganku. Suasana di luar gedung tidak seramai di dalam. Sesekali kupandangi taman bunga yanjg begitu asri. Pot-pot bunga tertata rapi di pinggiran kolam kecil. Di tengah lamunanku aku tak menyadari ada seseorang duduk di sebelahku. "Ra...". Aku sedikit kaget ada seseorang menyebut namaku. Ku toleh orang di sebelahku yang ternyata Dion lengkap dengan pakaian pengiring penganten adat jawa. "Dion?". Iya, jawabnya. Dion tampak berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Dia kelihatan lebih dewasa. "Kamu berbeda, Ra". Sebenarnya dari tadi aku sudah melihatmu. Kamu berbeda dari foto-foto yang kamu kirim. Ternyata lebih cantik aslinya. "Trimakasih pujiannya, tapi aku nggak ada uang receh,"jawabku sedikit bercanda
.
"Pacarmu mana, Dion?". Cewekku ada disampingku, jawabnya. Ah...kau ini bercanda. Lho memangnya menurutmu ada cewek lain selama ini yang dekat sama aku walaupun kita terpisah jarak. Trus, yang setiap hari bbm an sama aku. Selain cewek bernama Sora?. Pernahkah aku cerita ke Sora aku dekat sama cewek?. Aku pun menggeleng. Sesaat kamipun terdiam dalam pikiran masing-masing.
Sebelum acara usai kamipun berpamitan tuk kembali ke hotel tempat kami menginap. Kami rencana akan menginap satu malam, dan besok pagi kami akan kembali ke Surabaya dengan kereta pagi. Tapi aku masih kepikiran dengan perkataan Dion tadi. Benarkah apa yang dikatakannya?. Ah...ini mungkin hanya perasaanku saja. Dion kan memang suka bercanda. Suka mengolokku. Dasar...aku tertipu dengan penampilannya tadi. Ternyata tidak berubah. Huh, capek juga. Tiduran ah...nanti malam rencana mau ke alun-alun. Kangen ayam goreng mbak Purwati. Mudah-mudahan masih ada. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata ibuku. "Sora, hp mu mati?, Dion menelpon di hp ibu, dia sekarang ada di loby hotel katanya mau ketemu kamu". Iya bu, aku turun.
Uh...ganteng banget, gumamku dalam hati. "Yuk, ke alun-alun. Asyik lho...sore begini biasanya ramai,"ajak Dion. Bolehlah. Jawabku. Kamipun jalan kaki ke alun-alun karena memang tidak jauh dari tempat ku menginap. Kami berdua hanya duduk-duduk di bawah pohon beringin sambil menikmati wedang ronde susu kesukaanku. Tiba-tiba Dion menggenggam jari tanganku. Aku sebenarnya kaget. Tapi bibir ini tak mampu berucap sedikitpun. Seakan aku biarkan tangan putih dan kuat dion bebas menggenggam jemariku. "Sora, aku cinta sayang sama kamu". Ya...Tuhanku...benarkah apa yang kudengar. Mudah-mudahan ini nyata, Tuhan...gumamku dalam hati.
Pelan-pelan kusandarkan kepalaku di pundak Dion Dion hanya diam, tangannya pun masih menggenggam jemariku. Dengan pelan pun aku berkata,"Aku juga, Dion". Hahaha.....ku liat dion malah tertawa dan melepaskan genggamannya. Aku pun kaget. Ih...mesti kamu lagi menggoda aku,kan?. Dasar...nggak berubah!.Siapa yang menggoda Sora....aku seneng banget dengan jawabanmu, berarti cintaku nggak bertepuk sebelah tangan. Aku pun hanya tersipu menahan malu tapi juga seneng.
Pohon beringin di pojok timur alun-alun Purworejo menjadi saksi cinta kami berdua. Sebelum maghrib Dion mengantarkanku ke hotel dan Dion pun mengungkapkan keinginannya ke ayah ibu ku untuk segera meminangku. Ayah ibuku tampak bahagia mendengar keinginan Dion.