HANYA CERITA
Selasa, 11 April 2017
CINTA DION
Aku dan Dion di lahirkan pada kota dan di hari yang sama. Rumah kami kebetulan berdekatan. Dari TK sampai SMU pun kami pada sekolah yang sama pula. Ayahku dan ayah Dion bekerja sebagai guru di sekolah yang sama. Mungkin hanya kebetulan. Tapi kadang-kadang orang tua kami seakan akan ingin menjodohkan kami. Ah...ada-ada saja jaman internet seperti sekarang ini masih ada perjodohan. Setiap orang tua kami ngomong masalah perjodohan pasti aku sewot. Dasar emak-emak babe-babe. Tapi beda dengan Dion, dia santai-santai saja. Kadang dia malah menggoda aku sambil cengengesan. Dasar cowok.
Menjelang kelulusan SMA ternyata aku dan keluargaku harus pindah ke kota lain. Alhamdullilah ayahku diangkat menjadi kepala sekolah. Sedih rasanya meninggalkan kota ini
Kota yang banyak kenangan, walaupun kota ini tidak terlalu besar tapi nyaman,asri dan tidak terlalu ramai. Apalagi malam terasa ramai hanya sampai jam 21:00. Hanya alun-alun yang ramai sampai tengah malam.
Sebelum acara kepindahan, keluargaku dan keluarga Dion mengadakan acara makan bersama di alun-alun. Sambil makan kami banyak bercerita, bercanda. Biasa lah pembicaraan tak lepas dari perjodohan aku dan Dion. Tapi ku lihat malam itu Dion banyak diam. Biasanya kalau orang tua bicara perjodohan Dion cengengesan sambil menggoda aku sampai aku jengkel setengah mati. Dari sinar matanya ada kesedihan yang tak terungkap. Ada apa dengannya?. Baru kali ini aku melihat sikap Dion yang aneh tidak seperti biasanya. Sampai acara selesaipun sikap Dion tidak berubah. Sakitkah dia?. Atau...apakah tidak suka acara makan malam ini?. Pertanyaan berkecamuk di kepalaku ini.
Kepindahan kami sengaja tidak berbarengan berangkatnya. Ayahku lebih dulu berangkat karena harus segera bekerja di sekolahan yang baru. Aku dan ibuku tinggal dulu beberapa saat sampai penerimaan ijazah SMU ku. Rumah yang kutempati pun harus dikembalikan ke pihak Yayasan tempat Ayahku bekerjao. Sehari sebelum keberangkatan aku dan Dion sengaja lari pagi di sekitar kompleks perumahan pegawai yayasan. Sebenarnya aku aku enggan lari pagi hari ini, karena badanku terasa capek seharian kemarin aku dan ibuku beberes barang sebagian yang masih tersisa. Tapi aku nggak enak menolak ajakan Dion. Kata Dion ini kesempatan terakhir bisa bareng, besok pagi setelah subuh aku dan ibuku berangkat ke Surabaya.
Suasana kompleks masih terasa sepi hanya terasa sapuan angin yang menerpa wajah kami. Sejuk dan masih bersih. Hari ini hari minggu mungkin penghuni kompleks sengaja bermalas-malasan untuk keluar rumah. Kami berdua hanya terdiam sambil berlari-lari kecil dan terkadang hanya jalan jika lelah. Dion yang biasanya usil menggoda aku setiap kali bersama kali ini pun banyak diam. Aku merasa suasana terasa kaku.
"Ra, besok kita tidak bersama lagi". Tiba-tiba Dion memecah kebisuan kami. "Iya", Jawabku singkat. Kami pun berhenti dan duduk-duduk di jembatan kecil pinggir jalan. Ku lihat wajah Dion melihat ke depan dengan dan sesekali melihat ke arahku. "Sesekali datanglah kesini, Ra". Iya. Jawabku. Tak banyak pembicaraan antara aku dan Dion. Karena Dion tidak seperti biasanya. Biasanya Dion yang memancing pembicaraan dengan keusilannya. Tak terasa matahari sudah terasa sedikit panas. Dan keringat sudah mulai membasahi tubuh kami masing-masing. Kami pun mulai beranjak dan pulang ke rumah.
Pagi setelah subuh ku lihat mobil travel pesanan ibuku sudah menjemput kami. Dion sekeluarga pun sudah ada di teras rumah untuk mengantar kepergian kami. Dion dan adiknya Dona sibuk memasukkan barang-barang kami ke bagasi mobil. Kami pun bersalaman. Tak ketinggalan Dion sambil berkata,"Jangan lupa bbm aku, ra". "Oke boss, siap,"Jawabku. Selama perjalanan ibuku lebih banyak tidur. Mungkin kelelahan. Beberapa hari kemarin kami sibuk beberes packing barang. Sebagian di kirim lewat jasa paket. Ah...Surabaya...sudah kebayang panasnya. Sambil menikmati perjalanan ku buka hanphonku. Ku lihat foto-foto yang ku simpan. Ternyata banyak sekali foto Dion sekeluarga. Kupandangi foto Dion. Ternyata ganteng juga dia. Tidak heran banyak cewek di sekolahku yang cari perhatian ke Dion. Tapi sepertinya tidak ada satupun yang bisa mencuri hati Dion. Mungkin standarnya terlalu tinggi. Kenapa mikirin Dion. Sedang aku?. Cowok seperti apa sich yang jadi kriteriaku?. Seperti Dion kah?. Ha..ha..mikir apa aku ini. Sebentar lagi pasti aku sibuk banget. Harus daftar kuliah...Ya Alloh mudah-mudahan aku di terima Di Universitas Negeri.
Tak memakan waktu lama kami sekeluarga sudah bisa menyesuaikan dengan lingkungan di sini. Kami menempati rumah milik yayasan tempat ayah bekerja. Pinginnya ayah Surabaya adalah tempat terakhir makanya kemungkinan ayah mau beli rumah di Surabaya ini. Alhamdullilah aku pun diterima di salah satu Universitas Negeri fakultas Ekonomi. Lewat bbm Dion juga mengabarkan diterima di Universitas ternama di yogyakarta fakultas Kedokteran. Setiap hari kami saling kirim kabar lewat bbm ataupun SMS.
Sesibuk apa pun kegiatan kuliah aku dan Dion selalu menyempatkan diri bbm atau sms. Ini sudah jadi kebiasaan wajib kami. Bagaikan sepasang kekasih yang selalu berkirim kabar. Tapi kami bukan sepasang kekasih. Saat aku lagi dekat sama cowok pun aku selalu berbagi cerita dengan Dion. Dion selalu memberi masukan positif dan selalu pesan untuk bisa jaga diri. Tidak sekali aku dekat sama cowok tapi tak pernah lama. Aku biasanya yang putusin.
Entahlah...sebenarnya cowok seperti apa yang aku mau. Itupun aku selalu berbagi cerita sama Dion. Dion pun selalu terbuka ke aku kecuali tentang cewek. Dion tak sekalipun cerita tentang cewek yang sedang dekat dengannya. Kadang aku berpikir apakah cowok seganteng dan sepintar Dion tidak ada cewek yang mau jadi pacarnya. Atau apakah Dion yang tak membuka diri pada cewek. Ah...entahlah...
Aku dan Dion lulus pada tahun yang sama. Atas saran ayahku aku langsung ambil program S-2 pada universitas yang sama. Sedangkan Dion mengambil kerja sosial kedokteran pada daerah tertinggal. Dia di tempatkan di pedalaman Kalimantan. Dua tahun berlalu aku sudah mengantongi gelar S-2. Kemudian aku kerja sebagai dosen pada universitas swasta ternama di Surabaya. Dion pun akhirnya kembali ke yogya dan bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit swasta. Selama aku pindah ke Surabaya aku dan Dion tak pernah ketemu hanya kirim foto kami masing-masing lewat bbm. Hingga suatu hari ada sepucuk undangan di meja ruang tengah yang sudah terbuka. Sepintas kulihat ada tulisan kel.bapak Darmawan Purworejo. Oh...my God mungkinkah Dion?. Kenapa dia tidak bilang padahal tak satu haripun terlewat kami berhubungan lewat hanphon. Terlalu kamu Dion...pikirku. Dalam kebingunganku aku tak tahu ibuku sudah berdiri di sebelahku. "Sora, minggu depan ibu sama ayah mau ke Purworejo kondangan ke tempat Pak Darmawan. Sora mau ikut?". Belum tahu bu, jawabku. Kenapa belum tahu?. Tak inginkah Sora ketemu Dion?. Dion mesti ada di sana. Adiknya menikah masak ya nggak datang. Apa bu?. Jadi Dona yang nikah?. Ku lihat ibu mengangguk.
Pernikahan Dona diadakan di gedung pertemuan di jalan Kartini. Dari luar terlihat lumayan mewah. Maklum Dona anak perempuan satu-satunya. Setelah mengisi daftar tamu kami pun masuk ke dalam gedung. Kami langsung menyalami pengantinnya dan juga orang tua kedua belah pihak. Aku tengak tengok di mana Dion?. Dari tadi aku tidak melihatnya. Apakah nggak datang?. Keterlaluan...adiknya nikah nggak datang. Huh...dasar...
Ayah dan ibuku banyak bertemu dengan teman lama. Aku sengaja duduk tak bersama mereka. Aku lebih memilih duduk di luar gedung sambil menikmati camilan yang ada di tanganku. Suasana di luar gedung tidak seramai di dalam. Sesekali kupandangi taman bunga yanjg begitu asri. Pot-pot bunga tertata rapi di pinggiran kolam kecil. Di tengah lamunanku aku tak menyadari ada seseorang duduk di sebelahku. "Ra...". Aku sedikit kaget ada seseorang menyebut namaku. Ku toleh orang di sebelahku yang ternyata Dion lengkap dengan pakaian pengiring penganten adat jawa. "Dion?". Iya, jawabnya. Dion tampak berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Dia kelihatan lebih dewasa. "Kamu berbeda, Ra". Sebenarnya dari tadi aku sudah melihatmu. Kamu berbeda dari foto-foto yang kamu kirim. Ternyata lebih cantik aslinya. "Trimakasih pujiannya, tapi aku nggak ada uang receh,"jawabku sedikit bercanda.
"Pacarmu mana, Dion?". Cewekku ada disampingku, jawabnya. Ah...kau ini bercanda. Lho memangnya menurutmu ada cewek lain selama ini yang dekat sama aku walaupun kita terpisah jarak. Trus, yang setiap hari bbm an sama aku. Selain cewek bernama Sora?. Pernahkah aku cerita ke Sora aku dekat sama cewek?. Aku pun menggeleng. Sesaat kamipun terdiam dalam pikiran masing-masing.
Sebelum acara usai kamipun berpamitan tuk kembali ke hotel tempat kami menginap. Kami rencana akan menginap satu malam, dan besok pagi kami akan kembali ke Surabaya dengan kereta pagi. Tapi aku masih kepikiran dengan perkataan Dion tadi. Benarkah apa yang dikatakannya?. Ah...ini mungkin hanya perasaanku saja. Dion kan memang suka bercanda. Suka mengolokku. Dasar...aku tertipu dengan penampilannya tadi. Ternyata tidak berubah. Huh, capek juga. Tiduran ah...nanti malam rencana mau ke alun-alun. Kangen ayam goreng mbak Purwati. Mudah-mudahan masih ada. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata ibuku. "Sora, hp mu mati?, Dion menelpon di hp ibu, dia sekarang ada di loby hotel katanya mau ketemu kamu". Iya bu, aku turun.
Uh...ganteng banget, gumamku dalam hati. "Yuk, ke alun-alun. Asyik lho...sore begini biasanya ramai,"ajak Dion. Bolehlah. Jawabku. Kamipun jalan kaki ke alun-alun karena memang tidak jauh dari tempat ku menginap. Kami berdua hanya duduk-duduk di bawah pohon beringin sambil menikmati wedang ronde susu kesukaanku. Tiba-tiba Dion menggenggam jari tanganku. Aku sebenarnya kaget. Tapi bibir ini tak mampu berucap sedikitpun. Seakan aku biarkan tangan putih dan kuat dion bebas menggenggam jemariku. "Sora, aku cinta sayang sama kamu". Ya...Tuhanku...benarkah apa yang kudengar. Mudah-mudahan ini nyata, Tuhan...gumamku dalam hati.
Pelan-pelan kusandarkan kepalaku di pundak Dion
Dion hanya diam, tangannya pun masih menggenggam jemariku. Dengan pelan pun aku berkata,"Aku juga, Dion". Hahaha.....ku liat dion malah tertawa dan melepaskan genggamannya. Aku pun kaget. Ih...mesti kamu lagi menggoda aku,kan?. Dasar...nggak berubah!.Siapa yang menggoda Sora....aku seneng banget dengan jawabanmu, berarti cintaku nggak bertepuk sebelah tangan. Aku pun hanya tersipu menahan malu tapi juga seneng.
Pohon beringin di pojok timur alun-alun Purworejo menjadi saksi cinta kami berdua. Sebelum maghrib Dion mengantarkanku ke hotel dan Dion pun mengungkapkan keinginannya ke ayah ibu ku untuk segera meminangku. Ayah ibuku tampak bahagia mendengar keinginan Dion.
Rabu, 05 Oktober 2016
Cerpen: KEKASIH PACARKU
KEKASIH PACARKU
Hari ini tepat 13 tahun usia pernikahanku. Orang bilang 13 angka keramat. Benarkah?. Entahlah. Kupandangi wajah suamiku yang sedang tertidur pulas. Terimakasih suamiku, engkau telah menemaniku selama 13 tahun ini. Itu setiap ulang tahun pernikahan kami yang bisa ku ucap dalam hatiku. Aku nggak bisa lebih dari ucapan itu.
Aku adalah istri yang setia menurut suamiku. Tapi kalau aku yakin suamiku tipe laki-laki yang setia dan menyayangiku walaupun selama usia pernikahan kami belum ada buah hati. "Sabar sayang, kalau sudah waktunya pasti kita di beri,"Itu yang selalu dikatakan padaku. Sesak dada ini setiap mendengar perkataan itu. Tuhan, seandainya bibirku sanggup berucap aku ingin teriak....selama ini aku bersalah padamu suamiku... Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku dan wajah suamiku yang sedang duduk di teras rumah. Gemericik air terdengar dari air mancur taman. Seakan beradu cepat tuk sampai di permukaan kolam. Ikan-ikan louhan pun ceria menanti jatuhnya air sambil sesekali terlihat kepalanya mendongak di permukaan kolam. Kring.....telpon berdering, mas. Mas Erla langsung berdiri masuk rumah tuk angkat telpon. Tak lama kemudian Mas Erla keluar sambil membawa tas peralatan dokternya. "Viana, aku harus ke rumah pak Dadang istrinya sesak napasnya kambuh, "kata mas Erla sambil mengecup keningku. Lagi-lagi aku hanya diam tanpa respon dari ungkapan sayang mas Erla suamiku.
Belum dua menit mas Erla keluar dari pagar rumah hp ku bergetar..."halo, benar ini no mbak Viana?. Iya, benar. Ini siapa?. Jawabku. Sepertinya suara wanita di hp ku ini aku nggak kenal. Agak lama wanita itu menjawab. "Saya Yola, mbak. Pacar mas Rangga". Dadaku bergetar seperti mau meledak. Rangga adalah kesalahan terbesar dalam rumah tanggaku dalam tiga tahun terakhir ini. Wanita yang mengaku namanya yola melanjutkan perkataannya. Aku mencoba bersikap tenang. Biarlah wanita itu bicara aku akan mendengarnya walaupun dada ini sudah tak kuat. Bagaikan desiran angin dingin tapi sangat menusuk jantung. Wanita itu bicara tiada henti sampai akhirnya dia ngajak bertemu denganku pada suatu tempat. Tapi aku menolaknya. Untuk apa. Di hp saja hatiku sudah tercabik-cabik. Apalagi bertatap muka. Aku tidak ada kekuatan untuk menemuinya. Seperti apa dia?. Akankah dia akan memaki-maki aku?. Belum lagi kalau suamiku tahu apa yang terjadi di belakangnya. Oh...tidak. Aku memang pengecut.
Hampir setiap hari wanita itu menelponku. Hari ini gantian aku yang bicara hari-hari sebelumnya aku hanya sebagai pendengar. Endingnya dia selalu ngajak bertemu. Dan aku selalu menolak. "Memang benar yang mbak kira aku memang ada hubungan dengan Rangga sudah berjalan 3 tahun. Kami tahu ini salah, karena kami masing-masing sudah berkeluarga. Wakaupun setahun yang lalu Rangga bercerai dengan istrinya. Tapi, perceraiannya bukan karena hubungan kami lho mbak, tapi karena istri Rangga juga selingkuh dengan teman kantornya. Jadi Rangga di mata anak-anaknya tetaplah seorang ayah yang bertanggung jawab dan setia pada keluarganya. Kami tahu hubungan ini terlarang, tapi kami tahu batas-batasnya. Aku pribadi tak ingin kedua anak Rangga sedih tahu perbuatan orang tuanya. Walaupun mereka bukan anak-anakku tapi aku sangat menyayangi mereka. Mereka adalah korban dari kedholiman kedua orang tuanya. Hubungan kami memang salah mbak, kami juga sering mengatakan ini. Tapi mbak perlu tahu, cinta terpendam ini sudah sejak lama. Di saat bibir belum mampu mengungkapkan cinta pertama kami ini. Hingga suatu saat kami bertemu 3 tahun yang lalu dan kami masing-masing sudah berkeluarga. Tak sengaja kami bertemu di rumah sakit di tempat suamiku bekerja dan saat itu Rangga juga kebetulan sedang berada di situ karena Perusahaan Ranggalah yang selama ini sebagai pemasok peralatan rumah sakit tersebut. Pucuk di cinta ulam tiba cinta kami yang terpendam sekian tahun tumbuh kembali. Hingga saat ini cinta terlarang ini semakin tumbuh seakan tak mungkin kami memupusnya. Cinta kami tulus mbak. Kami saling support dan tidak memanfaatkan satu sama lain. Kami saling terbuka dan saling menyayangi entah sampai kapan rasa cinta yang besar ini akan memudar. Mbak, siapapun yang akan bisa mengambil ketulusan hati Rangga haruslah wanita yang punya rasa cinta dan sayang melebihi cinta dan sayangku sama Rangga. Walaupun tak satupun dari kami yang merelakan dimiliki orang lain. Mbak, ini semua terpaksa kuceritakan karena mbak yang akan hidup dengannya. Karena aku tak bisa bersamanya setiap saat. Walaupun Rangga sudah bercerai dengan istrinya aku tetap nggak bisa hidup dengannya. Dan Rangga menghormati keputusanku. Suamiku terlalu baik untuk kutinggalkan. Dia sangat menyayangiku dan juga tulus mencintaiku. Ini memang dilema bagi aku dan Rangga tapi harus kami jalani".
Begitu lancar aku berkata di hp seperti ketika aku menorehkan tinta pen ku pada buku diaryku tak ada yang menghalangiku mau tertulis apapun diaryku tetap diam. Di sebrang sana juga senyap tak ada sepatah katapun dari mulut wanita itu. Sebelum ku tutup pembicaraan ini wanita itu sudah menutup hp nya. Entah apa yang ada pada pikiran kekasih pacarku itu.
Cerpen: CINTA YANG TERTUNDA
Kami berdua berjalan beriringan. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Tak terasa gerimis mulai turun dan kami berteduh di poskamling pinggiran desa. Itulah pertemuan terakhirku dengan Dito sebelum kami berangkat ke kota tujuan kami masing-masing untuk melanjutkan pendidikan pada kota yang berbeda. Sekilas pertemanan kami terlihat sederhana. Tapi kami dekat satu sama lain sejak kecil. Umur kami sebaya, dari TK sampai SMU pada sekolah yang sama walaupun beda jurusan. Setiap ada kami selalu bersama. Kami selalu bercerita walaupun pembicaraannya nggak penting. Aku nyaman bercerita pada Dito. Dito adalah pendengar yang baik menurutku walaupun kadang nggak kasih solusi. Tapi aku merasa menikmati dengan kebersamaan kami.
Beda dengan Dito, dia nggak begitu banyak bicara. Dito orangnya agak pendiam dan lebih banyak mendengarkan ocehanku. Oh...Tuhanku, kenapa tiba-tiba aku teringat Dito. Sudah hampir 5 tahun kami tidak bertemu. Aku lebih sibuk dengan studiku dan kerjaan freelance ku. Aku berjalan menuju jadwal perjalanan tour untuk minggu depan. Bulan ini aku sudah bener2 bebas urusan kuliah. Seminggu yang lalu aku sudah selesai ujian skripsi tinggal urus wisuda. Makanya aku minta pada management travel tempatku bekerja untuk kali ini sebagai tour guide untuk luar kota sekalian refresing. Alhamdullilah...permintaanku terkabul, perjalanan ke Yogya untukku.
Yogya tidaklah asing bagiku, karena kota asalku hanya sekitar 4 jam dari kota pendidikan ini. Lagian saudara juga banyak yang tinggal di yogya. Tapi perjalanan kali ini sangat berbeda karena ini dalam rangka kerja bawa turis dari Singapura yang bener-bener ingin di layani aku sebagai pemandu. Sangat menyenangkan aku merasa dibutuhkan oleh para turis itu. Setelah makan malam para turis itu langsung masuk kamar masing-masing. Mereka terlihat sangat kelelahan dengan perjalanan 12 jam dari kota Denpasar.
Ah...kangen juga sama wedang jahe angkringan. Mas Dipo temanku sudah jalan lebih dulu. Hotel tempat kami menginap memang masih dalam wilayah marlboro jadi walaupun malam pun aku nggak takut keluar. Dengan balutan jaket jeans aku semangat mencari angkringan terdekat. Baru sampai di pintu keluar hotel aku dengar ada suara laki-laki memanggilku. Arian...seperti aku tak asing dengan suara itu. Ketika ku coba cari suara itu, aku termangu ada laki-laki berdiri di depan recepcionis. Oh...Tuhan...ternyata itu Dito...ya ampun...Dito...aku teriak seperti nggak percaya. Aku nggak peduli dengan pandangan mbak recepcionis yang kaget teriakanku. Dito menyalamiku sangat erat, sepertinya dia juga nggak percaya dengan pertemuan ini.
"Kamu nginap di hotel ini juga, Dit?". Nggak Ar, hotel ini punya keluargaku. Tiap malam aku ke sini untuk liat laporan harian sekalian cek keadaan hotel. "Oh..begitu". Akhirnya ke angkringan aku ditemani sama Dito. Aku di ajak ke angkringan yang paling rame di kota yogya dengan mobilnya. Walaupun hampir 5 tahun kami nggak ketemu dan nggak saling kabar satu sama lain tapi kurasa sikap kami nggak berubah. Aku masih juga yang banyak bicara dan Dito pendengarnya sesekali dia menimpali dan tersenyum melihat tingkahku. Jam 24:00 sampai hotel setelah puas menikmati angkringan dan muter-muter kota yogya. Dito pun pulang ke rumahnya.
Kurebahkan tubuhku di ranjang lelah juga seharian perjalanan dari Denpasar ditambah lagi jalan-jalannya sama Dito. Ah...Dito.. dia semakin dewasa lebih tampan dari jaman SMU dulu. Ah...pikiran apa ini. Pacarnya mesti cantik, anggun, sesuai dengan sikap Dito yang kalem. Hiih...tumben nih pikiranku begini sama Dito. Halo...aku pukul-pukul kepalaku sendiri. Nggak boleh seperti ini. Pekerjaanku masih padat, ini masih awal di yogya. Masih 2 hari memandu tamuku pasti sangat melelahkan.
Jam 6:30 pagi semua sudah siap. Rombongan tour ku semua sudah masuk bis tujuan pertama ke candi Borobudur di Magelang. Rombongan pagi ini terlihat segar semua. Pasti istirahat mereka tadi malam cukup. Pelayanan hotel juga menurutku memuaskan. Hotel keluarga Dito memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Dito bener-bener hebat bisa ngurus hotel sedemikian rupa. Ah...Dito lagi dito lagi. Ada apa denganku ini. Satu jam perjalanan kami serombongan sudah sampai di pelataran candi Borobudur. Udara terasa masih bersih dan sejuk karena sekeliling candi masih sepi jadi rombongan bisa leluasa menikmati keindahan sekeliling candi. Suasana belum panas kami serombongan sudah sampai di puncak candi. Rombongan turisku sangat menggunakan kesempatan langka ini. Mereka berfoto dengan bermacam-macam gaya.
Sebelum dhuhur kami serombongan sudah berkumpul untuk kembali lagi ke yogya tujuan ke candi Prambanan kemudian acara belanja di malioboro. Malamnya acara bebas terserah mereka yang penting bisa balik ke hotel enggak kesasar. Terimakasih Tuhan atas kelancaran kegiatan hari ini. Semua sesuai rencana. Malam ini aku akan istirahat, Tidur nyenyak karena besok masih ada tempat yang harus di kunjungi sebelum sorenya tamuku harus ke bandara untuk balik ke negaranya.
Setelah makan malam mas Dipo ngajak jalan ke malioboro tapi aku nggak mau aku malam ini mau bener-istirahat. Aku hanya duduk-duduk di sofa lobi sambil browsing. uh...yogya memang suasananya enggak bikin bosan. Aku yakin turis yang datang ke kota ini pasti pingin balik lagi. Tidur ah. Tapi langkahku terhenti oleh pegangan tangan yang ternyata mencegah langkahku ke kamar. Hei...Dit, kok kamu sudah di sini. Iya barusan aku datang, jawabnya. Kami pun ngobrol ngalor ngidul seperti jaman remaja dulu. Kami pun tuker-tukeran no hp dan pin bb. Lewat hp kita nggak akan terpisah lagi Arian. Aku terbengong mendengar ucapan Dito.
Ucapan itu adalah ucapan terakhir sebelum aku kembali ke Denpasar yang keluar dari mulut Dito. Kami hanya berhubungan lewat hp. Hampir setiap hari Dito menelponku. Ah...Dito aku merasa berbunga-bunga setiap mendengar suaramu di hp. Ah..Dito...perasaan apa ini padamu. Tuhan...kenapa perasaan ini semakin berkembang pada sahabatku sendiri. Tidak bersalahkah perasaanku ini?.
Waktu wisudaku pun tiba. Ayah,ibu, dan adik semata wayangku Randi pun datang di hari bahagiaku. Mereka pun tampak bahagia dengan keberhasilanku mencapai gelar S-1 ku walaupun nilai IP ku hanya 2,75 tapi aku cukup puas. Setelah segala urusanku selesai aku keluar dari aula gedung rektorat untuk bergabung dengab teman dan keluargaku. Dari kejauhan aku melihat ibuku sedang ngobrol dengan seorang laki-laki yang ternyata Dito. Aku nggak nyangka Dito datang hari ini. Dua hari lalu saat dia telpon memang aku bilang kalau hari ini aku wisuda. Tapi nggak menyuruh dia datang. Oh.. Tuhan pertanda apa ini?.
Dito pun mengucapkan selamat atas keberhasilanku. Tiba-tiba Dito memelukku. Akupun hanya terdiam, aku benar-benar nggak nyangka Dito akan berbuat seperti itu. Oh...Tuhan...inikah rasanya. Dan ku dengar Dito membisikkan sesuatu ke telingaku. "Aku mencintaimu, Arian. Jantungku serasa berhenti berdetak. Oh...my God benarkah yang ku dengar ini?. Kulepaskan pelukan Dito. Kupandangi wajah dan mata Dito. Kumerasakan kejujuran pada sorot mata Dito. Tanpa ragu akupun mengangguk sambil ku peluk kembali tubuh Dito. Aku tak peduli pandangan sekelilingku. Ayah, ibu, dan adikku Randi pun menyaksikan adegan kami. Aku sangat bahagia atas surprise ini. Cinta yang tertunda ini ternyata membawa kebahagiaan dalam kehidupanku.
Langganan:
Komentar (Atom)