Rabu, 05 Oktober 2016

Cerpen: KEKASIH PACARKU

KEKASIH PACARKU
Hari ini tepat 13 tahun usia pernikahanku. Orang bilang 13 angka keramat. Benarkah?. Entahlah. Kupandangi wajah suamiku yang sedang tertidur pulas. Terimakasih suamiku, engkau telah menemaniku selama 13 tahun ini. Itu setiap ulang tahun pernikahan kami yang bisa ku ucap dalam hatiku. Aku nggak bisa lebih dari ucapan itu.
Aku adalah istri yang setia menurut suamiku. Tapi kalau aku yakin suamiku tipe laki-laki yang setia dan menyayangiku walaupun selama usia pernikahan kami belum ada buah hati. "Sabar sayang, kalau sudah waktunya pasti kita di beri,"Itu yang selalu dikatakan padaku. Sesak dada ini setiap mendengar perkataan itu. Tuhan, seandainya bibirku sanggup berucap aku ingin teriak....selama ini aku bersalah padamu suamiku...
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku dan wajah suamiku yang sedang duduk di teras rumah. Gemericik air terdengar dari air mancur taman. Seakan beradu cepat tuk sampai di permukaan kolam. Ikan-ikan louhan pun ceria menanti jatuhnya air sambil sesekali terlihat kepalanya mendongak di permukaan kolam. Kring.....telpon berdering, mas. Mas Erla langsung berdiri masuk rumah tuk angkat telpon. Tak lama kemudian Mas Erla keluar sambil membawa tas peralatan dokternya. "Viana, aku harus ke rumah pak Dadang istrinya sesak napasnya kambuh, "kata mas Erla sambil mengecup keningku. Lagi-lagi aku hanya diam tanpa respon dari ungkapan sayang mas Erla suamiku.
Belum dua menit mas Erla keluar dari pagar rumah hp ku bergetar..."halo, benar ini no mbak Viana?. Iya, benar. Ini siapa?. Jawabku. Sepertinya suara wanita di hp ku ini aku nggak kenal. Agak lama wanita itu menjawab. "Saya Yola, mbak. Pacar mas Rangga". Dadaku bergetar seperti mau meledak. Rangga adalah kesalahan terbesar dalam rumah tanggaku dalam tiga tahun terakhir ini. Wanita yang mengaku namanya yola melanjutkan perkataannya. Aku mencoba bersikap tenang. Biarlah wanita itu bicara aku akan mendengarnya walaupun dada ini sudah tak kuat. Bagaikan desiran angin dingin tapi sangat menusuk jantung. Wanita itu bicara tiada henti sampai akhirnya dia ngajak bertemu denganku pada suatu tempat. Tapi aku menolaknya. Untuk apa. Di hp saja hatiku sudah tercabik-cabik. Apalagi bertatap muka. Aku tidak ada kekuatan untuk menemuinya. Seperti apa dia?. Akankah dia akan memaki-maki aku?. Belum lagi kalau suamiku tahu apa yang terjadi di belakangnya. Oh...tidak. Aku memang pengecut.
Hampir setiap hari wanita itu menelponku. Hari ini gantian aku yang bicara hari-hari sebelumnya aku hanya sebagai pendengar. Endingnya dia selalu ngajak bertemu. Dan aku selalu menolak. "Memang benar yang mbak kira aku memang ada hubungan dengan Rangga sudah berjalan 3 tahun. Kami tahu ini salah, karena kami masing-masing sudah berkeluarga. Wakaupun setahun yang lalu Rangga bercerai dengan istrinya. Tapi, perceraiannya bukan karena hubungan kami lho mbak, tapi karena istri Rangga juga selingkuh dengan teman kantornya. Jadi Rangga di mata anak-anaknya tetaplah seorang ayah yang bertanggung jawab dan setia pada keluarganya. Kami tahu hubungan ini terlarang, tapi kami tahu batas-batasnya. Aku pribadi tak ingin kedua anak Rangga sedih tahu perbuatan orang tuanya. Walaupun mereka bukan anak-anakku tapi aku sangat menyayangi mereka. Mereka adalah korban dari kedholiman kedua orang tuanya. Hubungan kami memang salah mbak, kami juga sering mengatakan ini. Tapi mbak perlu tahu, cinta terpendam ini sudah sejak lama. Di saat bibir belum mampu mengungkapkan cinta pertama kami ini. Hingga suatu saat kami bertemu 3 tahun yang lalu dan kami masing-masing sudah berkeluarga. Tak sengaja kami bertemu di rumah sakit di tempat suamiku bekerja dan saat itu Rangga juga kebetulan sedang berada di situ karena Perusahaan Ranggalah yang selama ini sebagai pemasok peralatan rumah sakit tersebut. Pucuk di cinta ulam tiba cinta kami yang terpendam sekian tahun tumbuh kembali. Hingga saat ini cinta terlarang ini semakin tumbuh seakan tak mungkin kami memupusnya. Cinta kami tulus mbak. Kami saling support dan tidak memanfaatkan satu sama lain. Kami saling terbuka dan saling menyayangi entah sampai kapan rasa cinta yang besar ini akan memudar. Mbak, siapapun yang akan bisa mengambil ketulusan hati Rangga haruslah wanita yang punya rasa cinta dan sayang melebihi cinta dan sayangku sama Rangga. Walaupun tak satupun dari kami yang merelakan dimiliki orang lain. Mbak, ini semua terpaksa kuceritakan karena mbak yang akan hidup dengannya. Karena aku tak bisa bersamanya setiap saat. Walaupun Rangga sudah bercerai dengan istrinya aku tetap nggak bisa hidup dengannya. Dan Rangga menghormati keputusanku. Suamiku terlalu baik untuk kutinggalkan. Dia sangat menyayangiku dan juga tulus mencintaiku. Ini memang dilema bagi aku dan Rangga tapi harus kami jalani".
Begitu lancar aku berkata di hp seperti ketika aku menorehkan tinta pen ku pada buku diaryku tak ada yang menghalangiku mau tertulis apapun diaryku tetap diam. Di sebrang sana juga senyap tak ada sepatah katapun dari mulut wanita itu. Sebelum ku tutup pembicaraan ini wanita itu sudah menutup hp nya. Entah apa yang ada pada pikiran kekasih pacarku itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar